Politik “Tai”

Oleh: Moh. Rifai M. Hadi

Tulisan ini, bentuk uneg-uneg penulis. Dan, hanya asal tulis.

Kata Soe Hoe Gie, “Politik itu ‘tai kucing’.”

Dalam perhelatan demokrasi, pemilu diidentikkan dengan hak suara, yakni memilih dan di pilih. Pemilu, di gadang-gadang sebagai pesta demokrasi terbesar di Indonesia, bahkan di seluruh dunia—untuk menentukan siapa yang akan terpilih dan selanjutnya duduk di kursi legislatif atau eksekutif. Jika demikian, maka ratusan hingga ribuan orang bertarung hanya untuk memperebutkan puluhan kursi itu. Dan, tak jarang, para kandidat, mendongkrak suaranya dengan politik money atau yang di kenal dengan “serangan fajar”.

Berbagai macam cara yang di lakukan oleh politisi, jika ingin menuju pemilihan umum. Ada yang membagikan baju, sticker, baliho, ada juga mobil yang sengaja di beri gambar sang politisi, semuanya bertuliskan coblos nomor “sekian”. Bahkan sampai pada pendekatan persuasif terhadap lumbung-lumbung suara di daerah pemilihannya masing-masing. Hal demikian, telah terjadi di Indonesia pada umumnya.

Di Kabupaten Tolitoli Sulteng, banyak cara yang di tempuh, agar lolos dalam pemilihan berikutnya. Pun juga, ada wajah-wajah baru yang ingin merasakan “kursi panas” ala anggota Dewan. Jika dahulu, tak dekat dengan masyarakat sekitar, maka sekarang politisi itu sangat senang membantu. Maklum, ada niat untuk menduduki kursi panas, alias kursi berbusa yang di beli dari uang rakyat.

Melalui Ormas itu, segala kegiatan social di lakukan, untuk mendobrak elektabilitasnya, itupun di lakukan menjelang kampanye, atau hari penentuan di mana nasibnya duduk atau tidak di kursi panas itu.

Pernah penulis temukan, Organisasi masyarakat (Ormas), yang tak tahu siapa-siapa pengurusnya di dalam, tujuannya seperti apa, atau bagaimana program-programnya sebelumnya. Tiba-tiba timbul kepermukaan dengan berbagai model: menyebarluaskan sticker, dengan gambar wajahnya paling besar, dan diselingi kata-kata pujangga. Menurut penulis, hal demikian adalah jalan yang paling mutakhir yang ditempuhnya, untuk mengkampanyekan dirinya sebagai calon kandidat berikutnya.

Hal itu, sudah menjadi lumrah, dan mutlak bagi kebanyakkan kandidat, yang maju dalam persaingan politik. Menarik perhatian rakyat, agar suara tertuju kepada sang kandidat. Jika, Soekarno dulu, hanya mengandalkan retorika dalam pidatonya, di depan ribuan rakyat. Sehingga, rakyat suka akan ketidaksukaannya kepada kapitalisme—imprealisme di zaman kolonial Belanda. Soekarno tak ingin, negara ini di kuasai oleh cukong-cukong berkepala “merah”, dan mengkampanyekan nasionalisasi perusahaan tambang, pada tahun 1957. Tapi, para politisi-politisi di zaman reformasi ini, telah lari dari cita-cita bangsa. Cita-cita dari Founding Father negara Indonesia. Berbagai macam cara, bahkan hal-hal yang tak senonoh—pun di lakukan: penggelembungan suara, memprovokasi pendukung kandidat lain, bahkan hingga, Money politik.

Bukan hanya partai politik yang menjadi tulang punggung suara sang kandidat. Bahkan, sampai pada pemanfaatan organisasi masyarakat (Ormas), untuk dapat mencapai keinginan sang politisi itu. Segala jenis janji telah diobralkannya, melaksanakan ini—melaksanakan itu, jika ia terpilih nanti. Atau, sang kandidat cukup mengikat benang dengan para tokoh-tokoh masyarakat, sehingga sewaktu-waktu benang itu akan terputus.

Sikap demikian, sudah tak lumrah lagi. Tapi politik “tai” itu, berlahan-lahan telah di ketahui oleh rakyat. Rakyat yang menjadikan para politisi itu duduk hengkang di tengah penderitaan sang pemilih. Begitu banyak para politisi, atau banyak orang menyebut sebagai politikus, entah apa maksudnya menyebut demikian. Kemungkinan besar, ketika mencapai suatu jabatan, maka dimanfaatkan untuk mencuri uang rakyat—uang Negara, alias korupsi.    

Siapa yang Salah?

Sesungguhnya, siapa yang salah? Apakah pemilih, ataukah yang di pilih? Sebenarnya, sang pemilih tak sepenuhnya untuk disalahkan, karena “surga telinga” telah menggerogoti telinga, hingga pada memutuskan untuk memilih sang penyebar “surga telinga” itu. Kesalahan fatal sang pemilih, adalah ketika diberikan fee sekian rupiah, maka suara pasti yang pemberi fee. Jika demikian, bagaimana dengan yang di pilih. Dia-lah yang menyebabkan kesalahan. Kesalahn falat menurut penulis. Orang-orang yang tidak bermoral, menggadaikan suara rakyat untuk mencapai ambisinya. Menurut penulis, banyaknya manusia yang rebutan menjadi penguasa, adalah untuk mencapai kepentingan pribadi dan kelompoknya. Partai pengusungnya.

Apa yang di sebut politik “tai kucing” oleh Soe Hoe Gie adalah sebuah euphoria para politikus untuk mementingkan kepentingan pribadi dan golongan. Para politikus sama sekali tak memikirkan nasib rakyat. Eksekutif  yang di gadang-gadang sebagai pendobrak perubahan menuju masyarakat sejahtera—jauh dari harapan. Begitu pun dengan legislatif, undang-undang yang dibuat, sarat dengan kepentingan kelompok. Aahhh, Negara ini hampir hancur, terkuaknya para politikus yang koruptor oleh KPK bertandakan, bahwa MEREKA hanya mencari uang sebesar-besarnya demi kesejahteraannya sendiri. Jika demikian, apa yang harus di lakukan pemilih? Golput? Atau seperti apa? Siapa yang mesti dipercaya lagi di negeri ini? Para politikus dengan wajah tulusnya di baliho atau di sticker produk photoshop—tetap  saja penipu. Begitupun dengan kata-kata pujangganya, “pilih yang bersih”, “jika pilih saya, maka perubahan akan tercapai”, “saya akan mensejahterakan rakyat di daerah ini”, dan lain-lain, dan lain sebagainya.

Di Tolitoli, banyak terjadi demikian, apalagi politikus yang baru saja bergabung dengan partai politik. Begitu bangganya ia mengkampanyekan dirinya sendiri: bersih, mengabdi kepada rakyat, mengutamakan kepentingan rakyat, dan lain sebagainya. BUSYET.

Ia di kenal sebagai pendiri salah satu ormas di daerahnya, tapi menurut hasil investigasi lapangan oleh penulis, banyak dana Ormas yang disalahgunakan. Pertanyaannya, bagaimana jika politikus itu tembus duduk di “kursi panas” alias anggota dewan? Apakah perilaku penggelapan uang di ormas beberapa tahun lalu, tidak ia lakukan ketika ia punyai jabatan kelak? Bisa ya! Bisa tidak!

Bantaya Lanoni, 01 Agustus 2013

4 thoughts on “Politik “Tai”

  1. Uneg-uneg yang baik. Menggeliat sy membacanya. Semoga tulisan ini menjadi sebatang korek api yg mampu mendongkrak mata para pembaca agar mereka mampu melihat dengan jelas siapa yg sering dan suka di tipu, pun siapa yg suka menipu. Tulisan ini banyak mengandung “Hikmah.” Dan semoga ini menjadi perbuatan yg “Ma’ruf” bagi penulis. Mantab.

Berikanlah Komentar Anda. Terima kasih.

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s